BRIN Gelar Riset Pengembangan Terkait Input-Output Industri Manufaktur Yang Berkelanjutan

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini isu tentang kerusakan lingkungan sedang marak diperbincangkan oleh banyak warganet di Indonesia.

Sebagai informasi bahwa definisi dari kerusakan alam adalah penurunan kualitas lingkungan hidup yang di sebabkan oleh peristiwa alam dan ulah dari manusia, contohnya yakni seperti penurunan kualitas tanah, air, udara, kepunahan flora, kepunahan fauna, dan kerusakan ekosistem.

Kerusakan alam sendiri juga dapat berdampak negatif signifikan terhadap kehidupan manusia, yakni seperti meningkatkan frekuensi bencana alam seperti banjir dan tanah lonsor, ganggungan kesehatan dan sosial-ekonomi.

Meskipun kerusakan alam disebabkan oleh banyak faktor, tetapi faktor utama yang paling mempengaruhi kerusakan alam yakni adalah ulah manusia yang meliputi membuang sampah sembarangan, penebangan dan pembakaran hutan secara liar, penggunaan sumber daya alam secara terus menerus, pembuangan limbah secara sembarangan ke sungai, dan polusi udara yang disebabkan karena aktivitas industri.

Kerusakan lingkungan bukan terjadi di negara Indonesia saja, melainkan kerusakan lingkungan sudah menyebar di sebagian besar negara di dunia.

Contohnya yakni baru-baru ini Kota Bangkok, Thailand mengalami kualitas udara yang sangat buruk, bahkan langitnya diselimuti oleh asap tebal berwanarna hitam, sejumlah berita internasional mengklaim bahwa kualitas udara tersebut disebabkan oleh aktivitas industri pertanian.

Bukan hanya Kota Bangkok, Thailand saja, melainkan beberapa waktu yang lalu, Kota DKI Jakarta, Indonesia sempat dinobatkan sebagai kota yang mempunyai kualitas udara paling buruk di dunia, dan hal tersebut juga disebabkan oleh aktivitas industri serta transportasi.

Oleh karena tingginya ancaman kerusakan lingkungan, maka PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah resmi menerapkan kebijakan SDGs (Sustainable Development Goals) dan CSR (Corporate Social Responsibility).

SDGs mempunyai tujuan utama untuk mewujudkan masa depan yang lebik baik lagi dan lebih layak lagi tanpa kerusakan lingkungan serta tanpa perubahan iklim yang parah, dengan 17 pilar berkelanjutan dan ditargetkan tercapai pada tahun 2030 mendatang.

CSR mempunyai tujuan utama untuk menyadarkan para entitas atau industri bahwa mereka harus mempunyai tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan.

Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Indonesia telah resmi mengeluaran peraturan tentang UU No. 40 Tahun 2007 (Pasal 74) dan PP No. 47 Tahun 2012, dimana dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa seluruh perusahaan industri di Indonesia harus menerapkan prinsip CSR dan SDGs.

Meskipun telah mempunyai peraturan yang tertulis, tetapi pada realitanya saat ini sebagian besar perusahaan di Indonesia masih saja melanggar peraturan dan tidak menerapkan prinsip CSR maupun SDGs, sehingga krisis sosial dan lingkungan terus terjadi sampai hari ini.

Berdasarkan sejumlah penelitian dan jurnal, maka dijelaskan bahwa alasan utama perusahaan tidak menerapkan prinsip CSR dan SDGs ialah karena terkendala biaya.

Baru-baru ini, (BRIN) Badan Riset dan Inovasi Nasional telah menggelar riset dan pengembangan tentang Input dan Output (IO) yang diterima perusahaan jika mereka menerapkan prinsip CSR dan SDGs.

Dalam riset dan pengembangan tersebut, BRIN berkomitmen bahwa pihaknya akan menyelesaikan permasalahan input dan output perusahaan dalam menerpakan CSR dan SDGs, dan dalam pengembangan tersebut pihaknya berperan sebagai lembaga penyedia landasan ilmiah dan transformasi sistem industri manufaktur nasional yang berkelanjutan dan rendah emisi.

Pihak BRIN mengklaim bahwa dalam penerapannya, riset dan pengembangan Input Output CSR dan SDGs bukan hanya mengedepankan asas ekonomi saja, melainkan juga memperhatikan asa sosial dan lingkungan.

Komitmen tentang riset dan pengembangan dari BRIN juga dibuktikan oleh adanya seminar “Transformasi Sistem Industri Manufaktur Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8%” yang digelar di Auditorium Gedung 71 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie di Serpong.

Seminar tersebut juga mendatangkan para pakar ahli dari kedua sudut pandang yang berbeda, yakni ahli ekonomi dan ahli sosial dan lingkungan.

Meskipun mempunyai sudut pandang yang berbeda, tetapi keduanya saling bersinergi untuk mencapai ekonomi hijau di Indonesia.

 

Transformasi Manufaktur Berkelanjutan

 

Peneliti Litbang Kompas Wirdatul Aini mengatakan, riset dan pengembangan IO dapat menjadi kunci utama dalam mewujudkan cita-cita negara kita yakni menjadi negara maju Indonesia Emas 2045.

Wirdatul Aini menjelaskan, pendekatan yang akan dipakai dalam riset dan pengembangan IO yakni ialah seperti melakukan pemetaan tentang keterkaitan sektor industri manufaktur dan industri lain terhadap sosial dan lingkungan, menganalisis tentang dampak ekonomi secara menyeluruh, mengukur dampak keseluruhan dengan multiplier effect output, dan pendapat dari lintas sektor.

Menurut Wirdatul Aini, saat ini perusahaan manufaktur bukan hanya bersaing tentang produktivitas dan keunggulan produknya saja, melainkan perusahaan manufaktur telah bersaing dalam mengembangkan produk yang berkelanjutan, atau kata lainnya adalah transformasi produk berkelanjutan.

Riset dan pengembangan produk berkelanjutan tersebut juga kerap disebut dengan green dan circular manufacturing.

Contoh sederhana dari pelaksanaan input-output perusahaan berkelanjutan ialah yakni limbah dari suatu proses produksi harus dapat diolah lagi menjadi hal yang bernilai tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai input sekunder perusahaan.

Perekayasa Ahli Utama BRIN Ugay Sugarmansyah mengatakan, saat ini pihakya telah mempunyai metode Environmentally Extended Input-Output (EEIO, dimana metode tersebut mampu menggabungkan antara sektor ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Disisi lain, pihak BRIN juga berkomitmen akan memberikan pelatihan dan edukasi kepada seluruh perusahaan manufaktur di Indonesia tentang pentingnya menerapkan CSR dan SDGs, karena pada dasarnya lingkungan adalah pilar utama dalam kehidupan manusia.

Related posts